Persis seperti pengalaman penulis ketika masih SD, waktu itu memelihara ayam kampung hanya sebagai “tabungan” kalau ada keperluan membeli buku ya jual ayam, mau jual apa lagi masak sapi, ayam aja cuma ada segitunya,,hehehe. Pakan ayam yang umum digunakan adalah dedak/katul dan karak (cengkaruk, bahasa jawa). Bagaimana mau untung kalau begini caranya,,,mungkin bisa untung sedikit sih tapi paaaaaanjaaaaaaaaaaaaang dan laaaaaamaaaaaaa.
Pengalaman beternak ayam kampung secara ekstensif di atas membuat saya penasaran bagaimana cara supaya ayam kampung ini bisa menjadi prospek bisnis yang menjanjikan. Maksudnya, bagaimana teknis budidaya yang baik, termasuk di dalamnya efisiensi pakan, manajemen kandang dan efektivitas permodalan agar usaha yang dikelola dapat menghasilkan keuntungan yang kontinu karena dari segi pemasaran, tidak diragukan lagi ayam kampung memiliki keunggulan tersendiri dibanding ayam ras dan end usernya pun sangat banyak dalam hal ini restauran dan warung yang menyajikan menu ayam kampung. Dijamin pasar terbuka luas dan semakin tak terbatas.
Secara umum beternak ayam kampung dapat diklasifikasikan menjadi beberapa kelompok usaha, mulai dari 1) pembibitan yaitu memproduksi dan menjual bibit (Day Old Chick, DOC) ayam kampung dari indukan dengan sifat unggul tertentu, 2) pembesaran yaitu membudidayakan bibit (DOC) ayam kampung sampai dengan umur tertentu dan menjualnya kepada konsumen dan 3) ayam kampung petelur yaitu memproduksi telur ayam kampung dari induk betina yang dipelihara baik secara intensif maupun ekstensif.
Sebelum anda terjun menekuni bisnis ini, ada baiknya anda mengkaji kelebihan masing – masing varian usaha ayam kampung ini. Kongkritnya anda harus menentukan visi bisnis, modal, sarana dan sumber daya yang anda miliki serta yang paling penting passion. Kalo passion anda bukan di ayam kampung udah deh ga usah terusin baca blog saya, ngabisin waktu,,,hahaha,,kalo anda minat,,,yuk kita belajar bareng, kita share pengalaman kecimpung di bisnis rakyat yang satu ini, sangat menarik,,,,
Salam Kenal








0 komentar:
Posting Komentar